SETELAH MEMBERI ALLAH DATANGKAN YANG DINANTI

SETELAH MEMBERI ALLAH DATANGKAN YANG DINANTI

KISAH PERTAMA: SETELAH MEMBERI, DATANG SANG DAMBAAN HATI
Femi, keponakan kami, sudah lama menjalan kasih dengan Namhu, teman satu sekolahan di sebuah lembaga pendidikan program diploma berbeasiswa di Bogor. Kedua anak muda ini sepakat untuk segera menuju Kantor urusan Agama. Ayah dan ibu dari Femi dan Namhu pun merestui. Suatu hari, ketika kedua muda-mudi ini mengonfirmasikan kepada ayah dan ibu masing-masing hal tanggal pelaksanaan akad nikah dan segala sesuatunya; orangtua dari pihak wanita sudah siap untuk melangsungkan pernikahan, tetapi di pihak lelaki, ada sedikit ganjalan. Bukan tidak setuju putra mereka nikah dengan Femi, tetapi perlu menunggu waktu. Waktu apa?

Desi, kakak perempuan Namhu, masih sendiri. Ia belum punya kekasih. Orangtua menginginkan, si kakak wanita yang menikah lebih dulu, baru kemudian adiknya yang laki-laki. Secara pribadi, Desi pun tidak ingin didahului. Bagi sebagian masyarakat pedesaan, bagai sebuah aib jika seorang kakak wanita didahului nikahnya oleh adik lelaki. Kondisi itu, bagi kaum wanita yang mengalaminya, berpotensi menimbulkan perasaan yang kurang nyaman. Di sisi lain, wanita -dalam mendapatkan jodoh, dibanding kebanyakan laki-laki, cenderung pasif. Jadi, bisa lama dan entah sampai kapan hal yang dinanti ini bisa terjadi. Di beberapa tempat, malah, tidak sedikit kakak beradik perempuan bermasalah dalam mendapatkan calon pasangan hidup. Tidak jarang, si adik lebih dahulu bertemu calon suami ketimbang kakaknya. Sedangkan sang kakak, kadang tidak berkenan jika ia dilangkahi. Ini semua dilema besar bagi orangtua dan si adik yang hendak segera menikah.

Keponakan kami pun, bukan tanpa masalah. Ia sudah didahului adik perempuannya. Oli, adik Femi, telah melangsungkan pernikahan dua tahun lalu. Kakaknya yang laki-laki, juga sudah setahun berkeluarga. Dari tiga bersaudara, tinggal dia yang masih sendiri. Femi, sabar menunggu kabar dari Namhu. Di sebelah sana, Namhu terus melakukan pendekatan dengan keluarga. Tetapi, kakak, masih belum rela.

“Akhir tahun ini atau awal tahun depan, Femi mau menikah,” Sri, istri saya, sebulan yang lalu, berkata.

“Bagaimana dengan kakak perempuan Namhu?”

“Ia, sekarang, sudah mengizinkan adiknya nikah lebih dulu.

“Alhamdulillah.”

Tidak sampai dua bulan setelah kakak perempuan Namhu membolehkan adiknya menikah lebih dahulu dari dirinya, sesuatu terjadi pada dia. Seorang pemuda mengajaknya menikah. Desi, kakak Namhu, ada yang melamar.
“Alhamdulilllah. Sesudah memberi izin kepada adiknya untuk mendahului dia; Allah, kemudian datangkan apa yang selama ini Desi impikan: datangnya lamaran dari seorang pemuda!”

KISAH KEDUA: SETELAH MEMBERI, KANDUNGAN BERISI
Aat sudah empat-lima tahun berkeluarga. Kedatangan anak, sejak lama keluarga itu nanti-nantikan. Agar pada saat amanah Tuhan itu datang mereka sudah siap dalam merawat bayi, pengetahuan tentang itu telah mereka pelajari sejak dini. Pasangan muda itu membeli satu set buku bimbingan tentang tatacara menangani sang buah hati. Walau referensi itu tidak murah, tapi apalah artinya dibanding ilmu yang terkandung di dalamnya yang akan bermanfaat bagi si bayi dan orangtuanya.

Hari berganti hari, minggu terus berlalu, bulan tak berselang, hingga tahun bertemu tahun berikutnya, kandungan tak kunjung datang. Tamu bulanan terus berjalan, tidak ada tanda-tanda perut mengembung. Namun, keluarga sederhana dan tekun bekerja itu, tak pernah putus asa. Doa-doa kepada Yang Mahakuasa, tidak pernah tertinggal, terus mereka panjatkan. Setelah tahun-tahun penantian terus berlalu, belum ada juga tanda-tanda kehamilan. Buku-buku yang sudah dipelajari, mungkin untuk sementara waktu, disimpan dulu.

Sepulang dari Bandung, di halaman rumah, kami dapati sepeda motor terparkir.

“Motor Pak Aat!” Apik, anak kami, memekik.

Aat dan istri sedang bersilaturahmi kepada kami. Sebab tuan rumah tak ada, mereka sudah hampir kembali.

Ana, istri Pak Aat, menyumbangkan satu paket buku cara merawat bayi untuk perpustakaan Yayasan Ar-Rahmah, yang kami asuh.

Lantaran yang dinanti-nanti belum juga hadir, keluarga itu berpikir untuk menyedekahkan paket buku tersebut. “Barangkali di Yayasan Bapak pimpin, ini buku bisa lebih bermanfaat.”

Tiga-empat bulan, setelah pertemuan itu, telah lewat. Kabar baik itu datang.

“Ana sudah isi,” dengan nada gembira istri saya mengabarkan.

“Alhamdulillah, Allahu Akbar!”

Setelah keluarga itu berikan sesuatu yang sangat berharga bagi mereka, Tuhan kemudian datangkan apa yang dimpikan oleh pasangan itu: Ana hamil. Alhamdulillah.

Setelah memberi, Allah datangkan yang telah lama dinanti.

Ciomas, 14 Juni, menjelang Subuh datang. Salam, jr

Share the Post

About the Author

Comments

Comments are closed.