SEMOGA TUHAN MEMBAHAGIAKAN SEMUANYA SUASANA PENYELENGGARAAN KURBAN DI AR-RAHMAH

SEMOGA TUHAN MEMBAHAGIAKAN SEMUANYA SUASANA PENYELENGGARAAN KURBAN DI AR-RAHMAH

Atas nama anak-anak yatim dan duafa Yayasan Ar-Rahmah, Ciomas, Bogor; kepada Ibu-ibu, Bapak-bapak, dan Teman-teman; atas partisipasinya membeli dan menitipkan hewan kurbannya kami –dari lubuk hati yang paling dalam- kami menyampaikan terima kasih tak terhingga. Semoga Tuhan yang Mahakasih dan Mahasayang menyayangi Ibu-ibu, Bapak-bapak, dan Teman-teman beserta Keluarga semua.
Kami hidup bersama anak-anak yatim dan fakir miskin. Gembira mereka adalah bahagia kami; duka mereka adalah luka kami. Dendang mereka adalah nyanyi kami, tangis mereka adalah air mata kami. Walau kemampuan pendanaan yang terbatas- tetapi dengan bantuan sedekah dari orang-orang baik hati, alhamdulillah, hingga saat ini, anak-anak masih bisa makan dan bersekolah.
Jika pada hari-hari lain anak-anak bersantap dengan menu minimalis, yang penting nasi bisa masuk ke dalam perut, pada hari-hari kurban –seperti halnya pada bulan Ramadhan, laiknya orang-orang berada- mereka bisa menikmati santapan lezat.
Dari tiga ratus enam puluh lima hari, inilah hari-hari paling sibuk bagi kami. Karena rezeki yang datang, biasanya melebihi dari yang kami butuhkan; makanan itu anak-anak distribusikan kepada orang-orang miskin lainnya. Pada bulan Ramadhan, anak-anak mengirimkan sembako ke rumah-rumah dan kampung-kampung di mana teman-teman mereka, sesama anak yatim dan duafa, yang tidak tinggal di yayasan, tinggal. Sejak selesai shalat Tarawih hingga menjelang waktu Sahur, dengan mobil kijang tua bak terbuka dan sepeda motor, mereka bagikan bahan makanan yang berasal dari para dermawan. Menjelang hari kurban, anak-anak telah mendata orang-orang fakir dan miskin, untuk mendapatkan daging itu. Tidak sedikit di antara penerima kurban ini, makan daging hanya setahun sekali.
Pada hari “H”, selepas shalat Idul Adha, ratusan orang miskin berdatangan ke tempat kami. Hampir semuanya membawa pisau dan golok. Mereka akan gunakan itu senjata tajam untuk merecah daging hewan kurban yang telah disembelih. Kecuali penitip kurban mau melakukannya sendiri, penyembelihan hewan, seluruhnya dilakukan oleh anak-anak kami. Saat pelaksanaan, di depan eksekutor diletakkan selembar kertas bertulisan, atas nama siapa hewan tersebut dikurbankan.
Tetangga dekat dan jauh, yang semuanya orang-orang tidak berpunya, senang setiap hari Idul Adha berpartisipasi mengurus hewan kurban di Ar-Rahmah.
Pagi-pagi, begitu masuk pekarangan –karena akan memerlukan energi yang banyak sepanjang hari, semua hadirin dipersilakan makan pagi yang sudah disiapkan anak-anak dan ibu dapur.
Nama para peserta didaftar dan dikelompokkan. Untuk satu kambing cukup diurus oleh dua-tiga orang, sedangkan sapi oleh sepuluh orang. Saya berikan pengarahan hal tata cara dan etika memotong binatang kurban, serta tata terbit mengurus daging hewan. Tengah hari, mereka disuguhi makan siang dengan sate dan gule. Dan, sore, setelah pekerjaan selesai, mereka yang ikut membantu mengurus daging kurban ini, mendapatkan tiga sampai lima bungkus daging -tergantung jumlah daging dan banyaknya yang berpartisipasi, ditambah uang minyak goreng Rp 25.000/orang.
Tahun lalu, pengeluaran untuk membeli plastik, pembuatan tenda ukuran 10 x 20 m, sarapan, makan siang, dan uang minyak goreng adalah sebesar delapan belas juta rupiah. Karena kondisi finansial yang sedang repot, dalam penyelenggaraan kurban tahun ini, pengeluaran ditekan.
Kalau pada tahun lalu para tetangga yang membantu memotong-motong, merecah, dan membungkus daging kurban berjumlah sekitar dua ratus orang, tahun ini, yang datang jauh lebih banyak. Sebanyak tiga ratus dua orang yang terdaftar. Di luar itu, orang terus berdatangan.
Hari Ahad itu, saat makan siang tiba, saya sempat panik. Kendati jumlah nasi dan daging yang disuguhkan sudah ditambah menjadi satu setengah kali dibanding tahun lalu: nasi habis! Antrean masih panjang. Puluhan pekerja itu kelaparan. Saya perintahkan anak-anak agar bapak-bapak yang belum kebagian nasi, dibagi daging dulu saja, sementara Zeni, salah seorang alumni, dengan sepeda motor, berangkat ke warung membeli nasi. Tidak lama, sate pun ledis. Untung gule dan sayur lodeh masih tersedia.
Sambil menunggu suplei nasi dari warung datang, saya merogoh saku dan berikan sejumlah uang kepada anak-anak untuk segera menambah air kemasan dan membeli kue apa saja, sebagai ganjal perut-perut yang lapar. Saya sendiri lari ke dapur, menyiapkan makanan cara kilat. Ada untungnya juga, dulu, hidup di daerah pinggiran dan orangtua berasal dari desa: sejak kecil saya terlatih, bagaimana menanak nasi dengan cepat dan tepat. Makanan-makanan kiriman dari para tetangga (menjelang hari-hari Idul Adha dan Idul Fitri –kadang juga hari-hari biasa, ada saja para tetangga dekat dan jauh, berdatangan mengirim makanan) -yang ada di kulkas, saya keluarkan dan dibagikan kepada orang-orang lelah dan lapar. Alhamdulillah, antrean panjang itu menjadi berkurang. Tidak lama kemudian, puluhan nasi bungkus pun datang.
Beberapa bulan menjelang hari raya haji, pernah terbetik, tahun ini kami akan tidak menyelenggarakan pemotogan hewan kurban. Akan tetapi, terpikirkan kembali, betapa kedua golongan –yakni anak-anak yatim dan fakir miskin, akan kehilangan. Mereka akan berduka, tidak lagi mendapatkan daging, yang setahun sekali, dengan cuma-cuma.
Ketimbang mencari keuntungan finansial, penyediaan hewan kurban di Ar-Rahmah adalah lebih ke membahagiakan orang-orang miskin, baik yang mereka yang setiap tahun mendapatkan kiriman daging kurban maupun bapak-bapak yang setiap Idul Adha datang ke tempat kami, membantu mengurus daging tersebut. Dan, Ibu-ibu, Bapak-bapak, serta Teman-teman; telah membahagiakan mereka. Sekali lagi, terima kasih untuk semuanya. Semoga yang Mahakuasa, kelak, membahagiakan Ibu-ibu, Bapak-bapak, serta Teman-teman semua.
Semoga Allah menerima kurban ini. Semoga Dia memberikan balasan atas hewan yang Ibu-ibu, Bapak-bapak, dan Teman-teman kurbankan dengan rezeki yang lebih banyak dan berkah. Bersamaan dengan dipotongnya binatang kurban itu dan memancarkan darah dari leher hewan, semoga berguguran dosa-dosa Ibu-ibu, Bapak-bapak, dan Teman-teman, juga para al-marhum/ah yang sudah mendahului kita. Sampainya daging kurban kepada anak-anak yatim dan fakir miskin, semoga diiringi dengan sampai dan diterimanya amal-amal saleh Ibu-ibu, Bapak-bapak, dan Teman-teman beserta Keluarga–baik yg masih mendapat nikmat hidup, maupun yang sudah kembali ke hadirat Yang Mahakuasa. Gembiranya orang-orang tidak berpunya dalam mendapat rezeki berupa daging kambing atau sapi, semoga menjadi kegembiraan kita semua beserta keluarga besar di yaumil akhir, nanti. Aamiin.

Oh ya, di samping belajar di sekolah dan mengaji, anak-anak pun belajar bernyanyi. Yang terakhir ini, tampaknya, lebih lancar dari yang pertama. Saya kirimkan dua dari sekitar tiga puluhan lagu yang mereka ciptakan. Di banyak syair lagu terdapat kata “pagelaran”. Itu adalah alamat lama kami: Jalan Pagelaran, Gang H. Lasim, sekitar tiga ratus meter dari tempat sekarang.

Selamat menikmati.
Salam,
jr

Share the Post

About the Author

Comments

Comments are closed.