NIKMATNYA HIDUP DI DESA

NIKMATNYA HIDUP DI DESA

Dengan anak-anak yatim/duafa yang berada di yayasan; tadi siang, Minggu, 14 Juni 2015, kami mengundang mereka yang tinggal di luar, juga orangtua (ibu atau kakak) dari anak-anak yatim; serta anak-anak dan ibu-ibu pengajian yang biasa belajar membaca kitab suci. Sebab berbagai kegiatan, dan sering tiba di rumah ketika malam telah larut, sudah lama saya tak jumpa mereka. Kami juga undang seorang kawan dari Jakarta (ia bekerja di Jakarta; rumahnya sih di Bogor) untuk mensponsori acara “makan-makan” bagi orang-orang miskin. Karib saya yang suka usil tapi rajin menyumbang ini, sebab ada keperluan keluarga, bersama istrinya, hanya sebentar dia di Ciomas. Kecuali kue pancong –yang tukangnya memang datang paling awal (dan pulang paling akhir), keduanya tak sempat menikmati hidangan untuk makan bersama.

Biarlah orang-orang kecil itu sesekali, menikmati jajanan seperti kebanyakan orang. Menu makan siang tadi adalah: mie baso, siomay, bandros/kue pancong, es podeng, dawet ayu Banjarnegara, dan buah jeruk. Air kemasan, tentu, tersedia.

Sebanyak dua ratus lima puluhan orang miskin itu bersuka ria menyantap hidangan. Paralel dengan acara itu, kami juga menerima tamu-tamu dari Bandung, Sukabumi, Tangerang, dan dari beberapa tempat di Bogor, untuk keperluan yang tidak sama.

Acara agak reda pada bakda Ashar. Sekelompok tetangga kampung menghampiri saya menanyakan tempat untuk penyelenggaraan tarawih ibu-ibu dan anak-anak pada ramadhan ini. Sejak belasan tahun lalu, tetangga merasa nyaman shalat malam hari bulan puasa itu di kediaman kami, di Kampung Kereteg, Ciomas, itu.

Lantaran rumah tersebut adalah bangunan yang gentengnya berukuran macam-macam (saya membelinya sudah jadi, bukan membangun sendiri; dan bangunannya sangat sederhana), bocor terus muncul di mana-mana. Anak-anak yatim, lalu kami titipkan ke tetangga: anak-anak putra ke majelis milik Pak Haji Soleh; yang putri ke rumah keluarga Pak Sucahyo.

Belakangan, anak-anak yatim pindah ke saung sawah. Setelah beberapa tahun, kami menyusulnya, dan rumah di tengah kampung itu menjadi kosong.

Sementara kebocoran semakin meluas; bulan Oktober tahun lalu, angin puting beliung menghantam Ciomas. Pohon salam yang sangat rimbun dan berusia tujuh belas tahunan, menimpa gubuk itu. Habislah riwayat itu rumah.

Para sesepuh kampung mengusulkan ibadah shalat tersebut dilaksanakan di tanah terbuka dengan memakai tenda. Istri saya mendatangi tetangga dekat, rumahnya mau dipinjam selama ramadhan untuk kegiatan tarawih. Sore itu, bersama anak-anak, saya menyurveinya. Selesai dengan tempat shalat, saya kembali ke saung sawah, tamu masih banyak. Sebagian anak-anak sibuk mengatur
sembako untuk didistribusikan ke kampung tempat anak-anak berasal, dan –kalau persediaan masih ada- untuk fakir miskin di sekitar situ.

Mendengar akan mendapatkan sembako untuk makan selama bulan puasa, saya lihat banyak ibu- ibu mengeluarkan air mata. Itu adalah ungkapan rasa syukur kepada Tuhan dan ucapan terima kasih kepada para dermawan, sehingga pada bulan puasa orang-orang kecil itu tidak perlu memikirkan beras dan teman-temannya.

Di antara para tamu itu banyak yang membawa bingkisan, mulai rengginang dan rempeyek (orang Bandung pinggiran -kayak sy, bilang: kasreng) hingga pepes daging ayam dan pais lauk emas! Tamu terakhir datang sekitar pukul 22.00.

Setelah mengkhatamkan dua majalah berita -at glance; dan sebuah koran ibukota; menjelang tengah malam, saat kebanyakan orang sudah berangkat ke peristirahatannya, eh … saya dan istri malah menyantap nasi dan kiriman-kiriman itu.

“Ada kalanya juga kita kedatangan rezeki yang banyak begini!” sambil tertawa, kepada istri saya berkata.

Tapi, ada yang sedikit membuat kami haru. Di antara kiriman tersebut … ada gorengan, beberapa potong saja. Barangkali saking ingin dinikmatinya makanan yang ia punya -walau hanya memiliki makanan sedikit sekali, dia kirimkan kepada kami. Hubungan batin dengan orang- orang miskin -yang dulu belajar a-ba-ta-tsa, walau sudah jarang bertemu, tetap terjaga.

Sambil menyeruput teh pahit kental panas, ditaburi sedikit kopi, seraya menganggukkan kepala, di dapur yang tidak luas, saya berseru, “Inilah nikmatnya hidup di desa!”

Ciomas, Minggu tengah malam, 14 Juni; dan City Plaza, pagi hari, 15 Juni 2015. Salam,

Jr

/ kisah inspiratif / Tags:

Share the Post

About the Author

Comments

Comments are closed.