MARI KEMBALI KEPADA DIA

MARI KEMBALI KEPADA DIA

Saat belajar di Madrasah – kini Pesantren- Al Basyariyah, Cibaduyut, Bandung Selatan, tahun 1970-an, kiai pimpinan Pondok, Buya Saeful Azhar, dengan mengutip sebuah kitab -yang tidak saya catat judulnya, bercerita.

“Dahulu, ada seorang bernama Muhammad tapi bukan Muhammad Rasulullah; ini namanya saja yang sama. Disebutkan bahwa dalam hidupnya, pemuda ini penuh dengan perbuatan tercela. Dia minum khamer, berjudi, menistakan wanita, mengganggu orang-orang di perjalanan, dan membuat banyak kerusuhan.”

Barangkali, kalau zaman sekarang ini ia terlibat apa yang dalam bahasa Jawa disebut sebagai molimo (lima “M”).

“Pada suatu tahun, masuklah Ramadhan kepadanya. Orang-orang melakukan puasa, sahur, dan shalat malam. Entah angin apa yang membawa pemuda bergajul itu, suatu malam, datang ke masjid. Dia melakukan itikaf, membaca Qur’an, melaksakan shalat wajib dan sunah, serta banyak beristigfar.

Bulan puasa itu, Muhammad mengisi kesehariannya dengan penyesalan atas yang selama bertahun-tahun dia lakukan; menyibukkan diri dengan bermacam ibadah kepada Tuhan dan meminta maaf kepada banyak manusia.

Menjelang habis hari-hari terakhir bulan suci, anak muda yang bertobat itu dipanggil untuk menghadap Ilahi. Jemaah masjid merasa kehilangan.

Beberapa orang saleh di kampung itu, suatu malam, bermimpi. Mereka bertemu dengan Muhammad yang hidup dalam suasana kebahagiaan, dalam kasih dan sayang Tuhan.”

Bertalian dengan kisah di atas, saya akan menyampaikan sebuah hadits.

Nabi saw. pernah bertanya kepada para shahabat-nya, “Bagaimana keadaan kalian, seandainya di antara kalian suatu saat berada di padang pasir membawa perbekalan dan unta, lalu kalian tertidur; dan ketika bangun, kalian mendapati unta dan perbekalanmu hilang?”
Para shahabat menjawab, “Tentu cemas sekali, ya Rasulallah!” Rasulullah melanjutkan, “Di saat kalian cemas, tiba-tiba kalian lihat unta itu kembali dari tempat jauh dan menghampiri kalian dengan membawa seluruh perbekalanmu. Apa perasaan kalian?”

Para shahabat kembali menjawab, “Tentu kami akan bahagia sekali.” Nabi yang mulia lalu berkata, “Allah akan lebih bahagia lagi melihat hamba-Nya yang datang kepada-Nya daripada kebahagiaan seseorang yang kehilangan unta kemudian ia melihat untanya datang kembali kepadanya.”

Kawan-kawan, Ramadhan, bulan yang banyak orang menunggunya, paling tidak, sejak dua bulan sebelumnya; kini kembali datang kepada kita. Setiap bakda shalat di bulan bulan Rajab, kita berdoa, “Allaahumma baariklanaa fie raajaba wa sya’bana, wa baalighnaa ramadhaana.” Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban; dan sampaikanlah kami kepada Ramadhan.”

Para ulama, apabila bulan puasa akan berakhir, mereka menangis. Orang-orang berilmu itu khawatir tidak berjumpa lagi dengan bulan kemuliaan, di tahun yang akan datang. Kaum alim ini merintih agar Allah sampaikan umur mereka kepada Ramadhan tahun berikutnya. Ini karena nilai-nilai keutamaan yang dikandung oleh bulan suci yang tidak dimiliki oleh bulan-bulan yang lainnya.

Kita sekarang berada dalam bulan yang dinanti-nantikan, bulan penuh keberkahan dan ampunan, yang menjadi sarana untuk mendapatkan keselamatan terbebas dari neraka.

Marilah kita manfaatkan berbagai fasilitas yang Allah sediakan di bulan ini. Bagi yang biasa berzikir, tingkatkan amalan dalam mengingat Tuhan; untuk yang pandai bersyukur, subur makmurkan ketekunan dalam syukur; para hamba yang senang bersedekah tambahkan kedermawanannya; yang belum bisa membaca Al-Qur’an, mari –pada bulan puasa tahun ini- kita mulai belajar mengaji.

Semoga kita bisa mengambil banyak manfaat dari kesempatan Ramadhan, sehingga Allah kucurkan kasih dan sayang-Nya kepada kita semua. Mari kita kembali kepada-Nya, kepada kasih dan sayang-Nya. Mari kita kembali kepada Dia

“… Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi). ” (QS. Az-Zumar 53-54).

Cimande Farm, Pemuliaan Domba Garut Abah Rachmat Priatna, Kampung Cipopokol, Desa Pasir Muncang, Caringin – Cimande, Perbatasan Bogor-Sukabumi; 21 Juni 2015, pagi hari.

Salam,
Jr
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Share the Post

About the Author

Comments

Comments are closed.