KENISTAAN YANG MENYELAMATKAN

KENISTAAN YANG MENYELAMATKAN

Saya mendapatkan dan menangkap kisah unik ini, secara maknawi dari seorang bijak, dua hari

lalu. Agar terasa lebih nikmat disantap -dengan tidak mengubah isi dan makna- saya mengolah

kata untuk disajikan kepada Saudara. Silakan!

Seorang sufi memiliki banyak murid. Ia, suatu hari, kedatangan tamu yang sangat dihormatinya.

Tamu agung itu adalah guru dari sufi tersebut.

Kepada orang biasa-biasa saja atau kepada siapa pun, sufi itu sangat ramah, sopan, dan terbiasa

membantu. Ia berkhidmat kepada umat. Maka, tatkala ada guru berkunjung ke gubuknya, dia

ingin menjamu.

“Kiranya guru ada suatu keperluan?” sang sufi dengan rendah hati bertanya.

“Tolong saya dibelikan sebotol alkohol!”

“Arak?”

“Iya. Saya haus sekali.”

Rasa heran dan tidak mengerti menyelimuti si murid. Tapi, mulutnya tak mampu bertanya-tanya

kembali. Dengan kepala penuh tanda tanya dan hati yang belum bisa mengerti, ia menyeruak

pergi. Demi hormat kepada guru, walau ada rasa ragu, dari rumah ia berlalu.

Dengan jubah hitam dan tutup kepala, sufi berusaha menyembunyikan diri. Di tempat yang

menjual minuman keras, dengan kepala agak merunduk, dia membeli sebotol arak. Khawatir ada

orang yang mengenalnya, segera disusupkannya itu barang ke saku dalam jubah.

Tak jauh dari itu warung, seseorang yang merasa tak asing dengan sosok berbaju panjang,

mengamatinya. Setelah dekat, yakinlah ia bahwa yang membawa botol itu adalah guru yang

biasa memberikan petuah kepada dia dan teman-temannya. Diam-diam, ia mengikuti kemana si

guru pergi. Beberapa kawannya mengikuti. Jumlah yang bergabung semakin banyak.

Sekarang, para penguntit jelas-jelas melihat bahwa guru yang senantiasa mengajarkan kebaikan

dan mereka junjung kehormatannya, ternyata, kepergok membeli barang haram! Rasa aneh,

heran, sedih, dan marah berkecamuk di dada mereka. “Munafik! Setiap saat menasihati banyak

orang, berpura-pura alim, dan rendah hati. Selalu mengajarkan ilmu menata hati. Dia suruh

manusia, kepada setiap orang agar berbuat kebaikan. Rupanya, selama ini dia menipu kita!

Kurang ajar!”

Kesepakatan didapat. Sebelum pembeli minuman terlarang itu menegak yang ia beli; sebelum

tiba di kediamannya, akan dimintai keterangan.

Agak lega hati sang Sufi, lantaran hingga hampir masuk halaman rumah, ia berhasil membawa

apa yang dibeli dengan tidak diketahui orang lain. Namun, di dekat halaman rumah, yang tidak

terang -sebab tak ada lampu, sekelompok orang, tiba-tiba menghadang. Betapa kagetnya

pembawa minuman keras ini. Wajah-wajah yang ada di hadapannya adalah mereka yang biasa

belajar mengaji kepadanya.

“Maaf guru, apa yang tadi dibeli di warung sana? Boleh kami melihat apa yang disimpan di

dalam jubah?”

Jantung berdegup, dada bergetar. Apa yang harus disampaikan kepada para murid yang marah.

Sedangkan ia, tidak mungkin membuka rahasia. Tak kuasa menolak permintaan gurunya, dan tak

mampu menjelaskan kepada khalayak. Ia dalam kebingungan yang dalam.

Sebab guru mereka tidak segera merespons, sedangkan rasa marah sudah tak tertahankan, dua

orang mengambil paksa itu botol.

“Tuh, benar kan!”

Semua, lalu merapat, meyakinkan diri; melihat dari dekat apa guru mereka bawa.

Setelah berbulan, bertahun belajar dan belajar. Menempatkan guru di posisi yang sangat

dihormati, ternyata guru berkelakuan seperti itu. Merasa selama ini telah tertipu, marah mereka

meledak.

“Buk…buk…buk…, ….gedebug!”

Tubuh kurus itu ambruk.

Mendengar ada keributan di luar, dari dalam rumah mahaguru ke luar.

“Ada apa?”

“Ini pembohong, penipu. Mengajari kami berbaik budi, rupanya dia pemabuk!”

“Dari mana bapak-bapak tahu bahwa dia tukang menegak minuman keras?”

“Nih, buktinya!”

“Kalian menyaksikan bahwa dia suka bermabuk-mabukan?”

“Lantas buat apa arak ini?” mereka balik bertanya.

“Coba, berikan kepada saya!”

Guru dari guru sufi itu memegang botol. Lalu, tutupnya dibuka. “Ini kan air cuka, untuk bahan

masakan. Coba kalian cicipi!”

Semua menjadi penasaran. Dan, terbukti isi botol tak lain dari air cuka; bukan arak!

Seluruh yang ada di situ terperanjat. Kepada guru telah berburuk sangka, dan berani berbuat

semena-mena; hingga kepalan tangan mengena kepala, perut, dada, dan punggung guru. Semua

tersungkur, menyesal, meminta maaf.

“Sebenarnya, rahasia apa yang guru hendak sampaikan kepada saya?” di rumah, guru sufi ini

bertanya kepada gurunya akan hal yang baru saja terjadi.

“Saya senang kamu masih konsisten menjalankan ajaran. Tetapi, saya mendengar kamu menjadi

terkenal, dan dihormati banyak orang. Bahkan, sebagian jemaah mulai menyanjung-nyanjung

dirimu. Itu akan sangat berbahaya bagi keselamatanmu di sisi yang Mahakuasa. Aku datang

untuk memperingatkan dan menyelamatkan.”

“Tetapi, yang saya beli tadi memang benar-benar minuman keras. Mengapa tiba-tiba menjadi air

cuka?”

“Atas izin Yang Makakuasa. Dan, melaluinya, kamu diingatkan dan diselamatkan.”

Orang-orang yang berada di jalan kebenaran berkata, “Ketenaran diri, pujian, penghormatan,

banyaknya pengikut, dan merasa dibutuhkan, seringkali membuat kita tinggi hati, lupa diri, dan –

dengan tidak menyadarinya – menjauh hati dari Ilahi; ujian kesengsaraan, penderitaan, dan

dinistakan orang, mengembalikannya ke jalan yang benar, kepada cinta dan kasih sayang

Tuhan.”

Dalam perjalanan Jakata-Bogor, 9 April malam hari; Bogor-Jakarta, 10 April pagi hari; dan

bakda Jumatan, Ciputra World – Wisma Mulia, 10 April 2015.

Salam,

Jr

/ Artikel Motivasi / Tags:

Share the Post

About the Author

Comments

Comments are closed.