ITEUNG, CEMONG, DAN JANGGO Sisi Lain Magang Learn To Maestro Sekolah Alam Bogor

ITEUNG, CEMONG, DAN JANGGO Sisi Lain Magang Learn To Maestro Sekolah Alam Bogor

Sabtu dan Minggu pagi, segera setelah shalat Subuh, saya, istri, dan putra bungsu kami, Apik, diantar Mang Endin, dari Ciomas melesat ke Cimande. Tidak untuk belajar silat, juga bukan untuk menemui ahli penyembuhan patah tulang; melainkan ada keperluan khusus dengan Abah Rachmat Priatna.

Anak kami yang belajar di Sekolah Menengah Sekolah Alam Bogor (SAB) hendak melakukan magang. Seluruh siswa SAB, pada setiap tahun ajaran atau tiap tingkatan, dari kelas satu hingga kelas tiga mendapat tugas Learn to Maestro.

Para siswa memilih tempat dan obyek magang sesuai dengan minat dan bakatnya. Ada yang di studio atau produksi alat musik, konveksi, pabrik boneka, restoran, hotel, jasa periklanan, media promosi, seni rupa, sinematografi, industri minuman, pabrik pembuat kue, atau di tempat kerajinan tangan.

Setelah magang selama dua sampai empat minggu, anak-anak belia ini diminta untuk memresentasikan hasil kerjanya di hadapan para guru, murid lain, dan orangtua. Sebab presentasi dilakukan pada hari kerja –dan kebetulan di kantor volume pekerjaan sedang padat; pada acara presentasi sebelumnya, Sri, ibu dari anak-anak kami, yang menghadiri. Jika acara sekolah dilaksanakan hari libur; sepadat apa pun acara yang ada, saya mengusahakannya untuk senantiasa hadir. Tak jarang, untuk keperluan menyaksikan anak yang manggung, sengaja saya mengambil cuti.

Istri saya bilang bahwa presentasi anak-anak SMP itu, di samping lucu-lucu; juga bagus-bagus, dan menarik.

Apik, adik dari Bila, Isal, dan Iki; sejak kecil menyukai dunia binatang. Tahun lalu, ia magang pada peternakan sapi di Sukabumi. Ketika ia memresentasikannya, perhatian hadirin tertuju kepadanya. Materi yang ia sampaikan menjadi menarik, sebab agak beda dengan bahan presentasi dari murid lainnya. Ketika teman-temannya menyampaikan tentang produk makanan, alat musik, atau kerajinan tangan; Apik berbicara mengenai sapi.

Dua hari ini, 20 dan 21 Juni 2015; saya menemani anak yang sehari-harinya lebih banyak berada di luar rumah, ini melaksanakan tugas magang di Pemuliaan Domba Garut Abah Rachmat Priatna, di Kampung Cipopokolan, Desa Pasir Muncang, Caringin-Cimande. Daerah ini merupakan perbatasan Kabupaten Bogor dan Sukabumi. Bagi Apik, ini sudah hari ketiganya, karena ia memulainya pada hari Jumat.

Karena tersusun dari bukit-bukit kecil dan lembah-lembah sempit, topografi Pasir Muncang bergelombang. Kata “pasir” dalam Pasir Muncang menunjuk ke daerah perbukitan. Pasir dalam bahasa Sunda artinya bukit, bukan pasir bahan bangunan. Tanah pesawahan, taman-taman di halaman, kebun-kebun penduduk, pepohonan besar dan kecil memenuhi permukaan tanah Cipopokolan. Rumah-rumah sederhana dan mewah (di samping rumah-rumah yang memang lokasinya mepet sawah, juga ada beberapa villa milik orang kota), yang jaraknya berjauhan satu sama lain menambah indahnya ini desa.

Abah Rachmat asal Bandung kota (di Bandung, ia tinggal di Jalan Abdul Moeis dan di Jalan Ciateul) mengembara ke desa, di perbatasan antara dua kabupaten, Bogor dan Sukabumi. Di bibir gawir yang menempel pada jalan aspal, ia membangun rumah kayu. Di area lembah, selain kolam-kolam ikan, Abah pelihara banyak domba. Semuanya domba Garut. Di lokasi ini tersedia stok seratus tiga puluh tujuh domba; dan di tempat lain ia pun menyediakannya.

Tujuh-delapan tahun lalu, putri kami menuntut ilmu di SMP Pesantren Al-Kahfi, di dekat Lido, tidak begitu jauh dari tempat Abah Rachmat. Karenanya, sering kami datang ke peternakan domba Garut ini. Abah juga adalah kawan lama, sejak beliau bekerja di Pertamina.

Di hari-hari tuanya, Abah memelihara domba Garut. Yang beda dari peternakan domba ini, selain dombanya khusus domba Garut dan kandangnya bersih, suasana lingkungannya pun asri dan menyegarkan. Maklum beliau, dulu, di Pertamina berpuluh tahun mendalami masalah lingkungan. Kami berada di tempat itu sebelum jarum jam menunjukan pukul pukul 06.30 hingga bakda Ashar, tapi itu tidak terasa lama. Di semua sudut, kita bisa duduk dengan santai dan nyaman. Cocok sebagai tempat untuk menulis artikel-artikel, seperti saat ini.

Kalau hari Sabtu kemarin kegiatan lebih banyak pada kandang-kandang di sebelah kiri kolam besar, dari membersihkan kandang, memberi makan, memandikan hingga memotong kuku domba –yang sore harinya disambung dengan ngarit di sekitar situ; hari Minggu ini, pekerjaan dimulai dari membersihkan kandang yang terdapat di bagian kanan kolam.

Pagi hari tadi, sementara Apik bersama Miftah, Irfan, dan Riki (tiga orang yang disebut terakhir adalah pekerja di itu peternakan) membersihkan kandang, saya berjalan ke saung baru yang sedang dibangun. Belum sempat menyentuh bagian beranda bangunan itu, tiga ekor anjing, dengan serentak mendekat.

“Gog…gog…gog!” Mereka seperti hendak menyerang saya.

“Hey tong garandeng! Dariuk maraneh!” (Hai, jangan berisik! Semuanya duduk!) seraya mengarahkan telunjuk ke binatang-binatang itu, saya menyuruh mereka tenang.

Hewan yang suka ke mana pun pergi selalu berlari, itu mundur sedikit dan kembali duduk. Saya bersandar pada pohon jambu klutuk -yang ada dekat bagian depan saung, sambil terus menulis. Saat kaki mulai terasa pegal, saya kembali mendekat saung dan meniup-niup debu yang menempel di lantai bagian depan untuk diduduki. Eh, binatang-binatang itu kembali menghampiri dan menggonggong. Saya isyaratkan mereka untuk kembali diam, mereka pun tenang.

Mendekati waktu Ashar, ketika Apik baru pulang mengarit di Gunung; Cemong, Jangggo, dan Iteung mendekat kepada kami. Mereka bermanja-manja dengan santai di lantai. Tampaknya anjing-anjing itu sudah tidak begitu curiga lagi.

Saya menuju ke halaman depan, di bagian atas. Di atas pagar tembok yang menghadap bungalow, saya duduk; sementara kedua kaki tergantung dan sesekali bergoyang-goyang. Telapak tangan kanan dan kiri sudah memegang telepon genggam, jari-jari jempol mulai membuka memo pad, melanjutkan tulisan tadi pagi.

Angin, nyaris tak henti mengusap pipi. Hembusannya lebih segar dan terasa natural dibanding udara pendingin di ruangan bertingkat. Daun-daun dari pohon nangka, rambutan, belimbing, dan bambu yang ada di belakang dan samping kiri saya gemerisik diterpa angin kencang. Sementara di depan dan kanan sana, pohon-pohon durian, petai Cina, sawo Belanda, jeruk, jambu bol, dan pohon mangga -yang sedang berbunga, dedaunnya terus bergerak bagai melambai-lambai.

“Mengapa anjing-anjing itu tadi menggonggong Bapak?” Anak saya bertanya.

“Anjing adalah jenis yang paling setia kepada pemiliknya. Dengan bapak, dia baru ketemu beberapa hari ini saja. Belum kenal benar. Mereka, barangkali, khawatir kita berbuat sesuatu yang berpotensi merugikan tuannya. Oleh sebab itu, gerak-gerik kita masih mereka awasi. Lama kelamaan, Iteung, Janggo, dan Cemong -begitu anjing-anjing itu diberi nama- akan menjadi kenal dengan kita, dan tidak akan lagi membentak-bentak seperti tadi.”

Ada pelajaran yang bisa kita ambil dari komunikasi kami dengan hewan penjaga itu. Pertama, untuk menyampaikan atau melakukan sesuatu, kita perlu mengenal lingkungan. Mendekati lingkungan sekitar perlu pelan-pelan, hati-hati, dan tenang. Kalau saja saat ketiga binatang itu menggonggong, saya langsung bereaksi, baik melawannya atau pun lari; pertengkaran dengan binatang-binatang itu tak akan bisa dihindari.Dan saya, pasti kalah. Kedua, makhluk apa pun, termasuk hewan, cenderung akan setia kepada majikannya atau kepada yang mengurusnya. Kalau binatang bersikap seperti itu, apalagi manusia. Ketiga, binatang maupun orang yang pada awal berjumpa terkesan sangar dan kasar, melalui perjalanan waktu dalam pergaulan, bisa berubah menjadi ramah dan bersahabat. Demikian juga sebaliknya.

Kampung Cipopokolan, Pasir Muncang, Caringin-Cimande, 21 Juni 2015, bakda Ashar.

Salam,
jr

Share the Post

About the Author

Comments

Comments are closed.