HARAU

HARAU

Rombongan kuliah lapangan geologi* Cekungan Ombilin tiba di Lembah Harau, Kabupaten Limapuluh Kota. Ngarai ini, di kiri dan kanannya, diapit oleh dua bukit batupasir yang menjulang tinggi. Kalau saja kedua puncak bukit itu disambungkan dengan batuan lainnya sehingga satu sama lain menyambung -seperti di Cukang Taneuh alias Green Canyon, Pangandaran; berdiri di Lembah Harau seakan berada di terowongan yang dalam dan panjang.

Apabila di salah satu sisi tebing dari bukit itu kita berteriak sekencang-kencangnya, getaran dari gelombang suara itu akan menambrak dinding tebing di sebelah sana, dan -dalam hitungan detik- suara yang sama, dari arah yang berlawanan, akan kembali terdengar oleh orang-orang yang berada di situ.

Mudiknya gelombang suara seperti ini, oleh para ahli fisika disebut sebagai gema dan gaung. Kerdam adalah sinonim dari gaung. Kalau suara pantulan itu tiba kembali ke tempat asalnya dengan utuh dan setelah suara asli selesai diteriakkan, dia disebut gema; jika ia pulang ke tempat asalnya, sedangkan teriakan belum selesai semua dikeluarkan, dan kadang tekor, ada bagian kata atau suku kata yang hilang, bunyi pantulan itu dikenal sebagi gaung atau kerdam. Istilah yang lebih populer, lebih sering terdengar sehari-hari -apalagi di dunia musik, di gedung-gedung pertunjukan- adalah bahasa inggris dari bunyi pantulan itu: echo. Pada dinding di titik orang suka menguji kekerasan teriakannya, di pinggir jalan aspal, ada tulisan ECHO. Oleh sebab itulah, sebagian orang menyebut area ini dengan Lembah Echo.

Tidak disebut sebagai orang yang pernah ke Harau kalau belum berfoto dan berteriak di dekat dinding tebing itu. Setiap tamu, wisatawan –dalam dan luar negeri, tidak ketinggalan para peserta eskursi geologi ini, mejeng di depan kamera dan menjajal suaranya.

Agar suara bisa lari dengan se … kencang-kencangnya ke arah dinding yang berlawanan, dan segera kembali terdengar ke pemilik teriakan itu, setiap orang menempelkan telapak tangan kiri dan kanan ke pipinya, menyorongkannya, membuka mulut selebar mungkin, menarik napas panjang, lalu … berteriak sekuat tenaga, teriakan yang sepanjang hayatnya baru dikeluarkan di situ. Setelah suara keras dan kencang itu melaju, orang-orang berusaha hening, daun telinganya dibuka lebar-lebar, untuk mendengar respons dari seberang sana. Orang merasa puas, jika suara yang dia lepas, kembali ke pengucapnya dengan selamat.

Setelah mendengarkan penjelasan dari pembimbing lapangan, Dr. Dardji Noeradi, para peserta kuliah lapangan mengabadikan diri di dekat dinding batu yang di bagian atasnya ada tulisan ECHO; lalu, satu persatu, menempelkan telapak tangannya ke pipi, menempel pada rongga mulut, dan berteriak sekuat tenaga.

“Hilaaaaal!” saya memonyongkan mulut.

“Hilaaaaal! suara balasan datang dari tebing.

“Tuh, kan,” kata kawan saya Muhammad Al-Hilal.

Situasi yang sama pernah terjadi pada seorang anak yang berjalan di daerah bebukitan, di negara sana, bersama kakeknya. Agar lebih membumi, saya terjemahkan saja secara bebas ke dalam bahasa kita. Bersama orangtua dari ibunya, Ujang berjalan penuh semangat.

Tiba-tiba …, “Aaaaaaaaaw!” Ujang tersandung batu dan jatuh.

Sejenak kemudian, “Aaaaaaaaaw!” suara lain datang menyahut.

Penasaran dengan suara yang barusan muncul, anak itu berteriak, “Haiiiiiiiiiii!” “Haiiiiiiiiiii!” suara yang sama terdengar kembali.
“Saha etaaaaaa!” dalam bahasa daerah, cucu Pak Mamat, semakin kencang teriakannya.

“Saha etaaaaaa!” suara itu kembali ke pemiliknya. “Abah, apa itu?” ia menoleh kepada kakeknya.
Si kakek tersenyum. Ia mendongakkan kepala, dan … seolah mau mengumandangkan azan, tetapi posisi kedua telapak tangannya lebih maju ke arah mulut, menoleh sebentar kepada cucunya, “Perhatikan, Jang!”

“Kamu hebaaaaaaaaaaaat!” dengan mengarahkan muka ke salah satu dinding bukit, orang tua itu berteriak keras sekali.

“Kamu hebaaaaaaaaaaaat!” suara itu datang kembali.

Belum puas, atau agar anak kecil yang menyertainya lebih jelas memperhatikan peristiwa itu, kembali kakek mengencangkan suaranya,”Ujaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaang!”

“Ujaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaang!” bukit itu membalas.

Raut wajah anak itu menunjukan kekaguman. “Mengapa bisa begitu, ya, Bah?” “Itu namanya gema atau echo, Jang.”
“Gema menggambarkan kehidupan. Tadi kamu perhatikan, ketika kita mengeluarkan sebuah kata atau kalimat; kata atau kalimat yang sama akan kembali kepada kita. Demikian juga dalam kehidupan, karena kehidupan adalah refleksi dari apa yang kita lakukan. Kalau kamu
menginginkankan kasih, maka tebarkanlah sayang. Apabila kamu agak kurang kerjaan, dan mulai berbuat nakal kepada orang lain, akibat dari kenakalan itu, tidak akan ke mana-mana; ia akan kembali ke pelakunya. Jika kita ingin dibenci orang, sebarkanlah fitnah. Akibatnya, tidak akan jauh-jauh, dan tak usah kuatir, hidup kita akan dipenuhi dengan rasa resah dan susah.”

“Hidup ini sederhana, Jang, tinggal kita memilih: ingin hidup damai atau mau berperang? Semuanya terpulang kepada kita. Sebab, incu aki anu kasep, ”Life will give you back everything you have given to it,” Abah Mamat, rupanya, bisa bahasa Inggris juga.

“Apa yang kita alami dalam hidup bukanlah sebuah kebetulan, melainkan pantulan dari diri kita sendiri. It’s not a coincidence, but a reflection of us!” kakek itu menutup kata.

Lembau Harau, bukan sekadar tempat yang sangat bagus untuk eskursi geologi, pertambangan, atau perminyakan. Ia juga merupakan tempat yang tepat untuk mengaji diri, instrospeksi, melihat ke dalam, apa yang penah diperbuat, dan apa yang ke depan sebaiknya dilakukan agar hidup selamat dan memberikan manfaat kepada sesama.

Lembah Harau, 29 Mei; Ciomas, 2 Juni, dan Jakarta, 18 Juni 2015. Salam,
jr

RAU

*Kuliah lapangan tim Management Representatives yang dikomandoi Bapak Herman Primo.

/ Tak Berkategori / Tags:

Share the Post

About the Author

Comments

Comments are closed.