HAJI – Sharing saja

HAJI – Sharing saja

Gintung, Tangerang, hari kesatu, bulan Mei 2013, saya sedang kutak-ketik di warung internet dekat Pesantren Daar el Qolam.

Hari itu, untuk menemui dan mengucapkan selamat ulang tahun kepada anak ketiga kami yang bertambah usia pada awal Mei, saya mengambil cuti. Sejak lulus SD, sudah mau dua tahun dia tinggal di pesantren terbesar di Banten itu, di mana almarhum Uje, dulu, pernah menuntut ilmu.

Tiba-tiba telepon seluler saya berdering, “Pak Jonih, assalamu ‘alaikum! Saya Mughni dari Kemang. Saya sudah baca buku Bapak. Hari Sabtu, ada waktu?”

“Sabtu kapan, Pak?”

“Empat Mei.”

“Ada yang bisa saya bantu, Pak?”

“Kami mengundang Pak Jonih ke rumah kami.”

“Boleh, Pak. Maaf, sebagai apa, ya?”

“Sebagai ustaz! Kami mau umrah bersama keluarga. Saya ingin Pak Jonih memberikan sharing filosofi haji, supaya ibadah umrah kami lebih mantap. Nanti alamatnya saya kirim, ya!” suara itu berasal dari seorang Bapak di Jakarta Selatan.

“Sebagai” ustaz berarti hanya mengambil peran, bukan yang sebenarnya; sesuai dengan saya. Jadi, tak masalah. Lagi pula, kalau sekadar sharing dan diskusi fikih keseharian, bolehlah.

“Nanti dijemput di Bogor atau di mana?”

“Acaranya pukul berapa?”

“Kami mengikuti waktu yang Pak Jonih bisa saja.”

Sabtu, bakda zuhur saya dan istri sudah berada di sebuah rumah besar, di Jakarta Selatan, tidak terlalu jauh dari Kemchick -tempat belanja yang unik itu. Walau kami sudah mengisi perut, tapi demi menghormati tuan rumah -yang menunda waktu makannya menunggu kedatangan kami, juga terutama, jenis hidangannya tidak pernah dijumpai di rumah- kami nikmati sajian itu. Dan, tetap saja lahap!

“Arafah, sembilan Zulhijah, paruh kedua dari abad pertama Hijriah, ratusan ribu kaum muslimin memenuhi Jabal Rahmah dan sekitarnya,” seolah-olah ustaz, saya memulai ceramah.
“Segera setelah matahari tergelincir, gemuruh zikir memenuhi langit Arafah. Semua orang tenggelam dalam pengakuan, penyesalan, dan harapan,” saya melanjutkan

Pengakuan para suami yang sering menelantarkan dan menzalimi anak dan istri; penyesalan para ibu yang merasa kurang berbakti -dan kadang terlalu berani- kepada suami, sampai tak jarang pasangan hidupnya tersakiti; tangisan menjadi-jadi dari mereka yang telat berbaik hati kepada ayah dan ibu, hingga kedua orang tua -kini- keburu menghadap ilahi; serta harapan dan permohonan kasih dan sayang Tuhan dari para pendosa; naik ke langit tinggi.

Seluruh yang hadir di situ meneteskan air mata, tak terkecuali para petinggi negeri yang sering berbuat tidak adil kepada orang-orang kecil. Juga, para pejabat yang suka memakan hak rakyat. Untuk kesekian kali tangis permohonan ampunan kepada Tuhan mereka tunjukan, seperti tahun-tahun sebelumnya; setelah mereka senantiasa mengulangi perbuatannya.

Di sinilah, pada hari ini, para jemaah haji mengikuti wisuda. Semua jemaah, tanpa kecuali, dalam kondisi tidak sehat pun, sepanjang pihak rumah sakit mengizinkan, harus menghadiri acara puncak ini. Siapa yang berhalangan, ia dianggap tidak menjadi haji.

Ali bin Husain, yang juga ada di Arafah, bertanya kepada Zuhri, sahabatnya. “Berapa banyak orang yang wuquf hari ini?”*

“Saya kira ada empat atau lima ratus ribu orang. Banyak sekali. Mereka semua datang untuk haji dan berwuquf di sini.”

“Alangkah banyak teriakan; betapa sedikit manusia!”

Zuhri tidak mengerti. Mengapa jumlah yang ratusan ribu itu, dibilang sedikit.

Ali bin Husain meminta sang sahabat mendekat; Ali mengusap wajahnya. Zuhri terkejut. Ia melihat begitu banyak monyet menjerit-jerit. Ali mengusap lagi wajah itu. Zuhri tambah kaget. Dia menyaksikan babi-babi berkeliaran. Pada usapan ketiga, Zuhri merasa semakin ngeri. Dia lihat begitu banyak serigala yang berteriak-teriak. Sedikit sekali manusia, alangkah banyak monyet, babi, dan serigala!

“Bukti-buktimu menyebabkan aku takut. Keajaibanmu membuat aku ngeri!” Zuhri berkata kepada Ali bin Husain.

Berkat sentuhan orang suci, Zuhri -walau sesaat- dengan izin Tuhan, dapat melihat yang orang lain tidak lihat.

Manusia adalah makhluk Tuhan yang paling sempurna. Tetapi, kehidupan telah melemparkan orang-orang dari kemanusiaannya, sehingga mereka jatuh ke posisi yang rendah dan hina.

“Sungguh telah Kami ciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan mereka pada derajat yang paling rendah.”

Agar saat tiba waktu wuquf, sifat-sifat kebinatangan, sudah menjauh dari kita; sejak di miqat kita harus sudah menanggalkan baju-baju kebesaran yang sering kita pergunakan untuk mempertontonkan kepongahan. Perasaan sebagai orang kaya, mempunyai jabatan, dan ras kebangsawanan, yang selalu kita banggakan; perlu kita lepaskan. Anggapan bahwa hanya kita golongan yang paling saleh, sementara orang lain pasti salah; harus dikubur hidup-hidup!

Sejak di miqat, kita singkirkan intrik-intrik monyet, kita buang kerakusan babi, dan kita lemparkan kepongahan serigala. Sebagai gantinya, pelan-pelan, kita kenakan busana kesucian, kejujuran, dan kerendahan hati. Lalu, kita hiasi pakaian itu dengan kebaktian kepada yang Mahakuasa dan kebajikan kepada sesama.

Kita hadapkan wajah kepada Yang Maha Esa, sambil membersihkan hati, menundukan qalbu, kita berseru, “Aku datang memenuhi panggilan-Mu…!”

Dalam perjalanan Jakarta-Bogor, 4 Mei 2013.

Salam,
Jr

*Musim haji pada sekitar abad ke-8 Masehi.

/ Berita Kegiatan / Tags:

Share the Post

About the Author

Comments

Comments are closed.