GEMBIRAKANLAH YANG DI ALAM SANA Doa, Sedekah, dan Ziarah bagi Ahli Kubur

GEMBIRAKANLAH YANG DI ALAM SANA Doa, Sedekah, dan Ziarah bagi Ahli Kubur

“Pak Jonih, saya sudah baca buku-bukunya. Oh ya, hari Sabtu yang akan datang, kami mengundang Bapak menyampaikan ceramah di tempat kami?”Pak Kadir, pembaca Malaikat Cinta, Buku tentang Kebaikan, dan Bahagiakan Dirimu denganMembahagiakan Orang Lainmenelepon saya.
“Acara apa, Pak?”
“Peringatan empat puluh hari meninggalnya kakak kami.Yang akan hadir sekitar 150-200 orang. Acaranya mulai pukul sepuluh. Dan, saya infokan juga bahwa hadirinnya tidak semua muslim.”
“Di mana alamatnya, Pak?”
“Di Slipi. Nanti, bapak kami jemput.”
Di Jakarta Barat, Sabtu pagi itu, saya bercerita waktu-waktu dan tempat-tempat yang mustajab untuk berdoa. Allah sediakan bagi kita fasilitas waktu dan tempat agar ketika para hamba meminta, anugerah Tuhan bisa lebih mudah didapatkan.”
Akan tetapi, doa sebagaimana usulan pekerjaan atau proposal suatu kegiatan, dalam perjalanannya menuju Tuhan, ia memerlukan proses. Anggaplah itu seperti proses bisnis di perusahaan. Sebenarnya, bagi Tuhan sangat mudah untuk segera menyetujui atau mengabulkan semua permintaan, apa pun bentuknya.Wong bikin dunia dan segala isinya saja bisa, apalagi kalau sekadar menyetujui usulan pekerjaan suatu perusahaan, proposal sebuah organisasi, atau mengabulkan pemintaan seorang manusia! Tapi, Tuhan juga menghormati alur dari suatu proses. Ada yang Dia kasihkan satu-dua hari atau langsung:cash and carry; ada yang perlu waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, atau…lebih dari itu!
Yang pasti, setiap usulan, seluruh permintaan, dan semua doa pasti Tuhan kabulkan. Tak ada yang ditolak.Ud’uunie astajib lakum (Q.S. 40:60).Berdoalah kepadaku, niscaya Aku kabulkan.Wa idzaa saalaka ‘ibaadie‘annie fa innie qarieb. Ujiebu da’wata daa’i idzaa da’aanie…(Q.S. 2:186). Dan apabila hamba-hambu-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, katakanlah Aku dekat; Aku kabulkan permintaan orang-orang apabila mereka berdoa kepadaku …”
Sekali lagi, doa –insya Allah, pasti Allah kabulkan. Bentuk dari pengabulan doa bisa bermacam-macam. Pertama, Allah berikan sesuai permintaan kita, baik waktu maupun jenisnya. Kedua, digantikan dengan bentuk lain yang lebih bermanfaat bagi kita. Ketiga, realisasi daridoa itu ditunda, dan akan diberikan pada saat yang paling tepat menurut Tuhan. Sekali lagi, menurut Tuhan; bukan menurut kita! Kita sih maunya, begitu selesai doa diucapkan, “blug”, ada yang diturunkan dari langit! Bisa juga hasil dari doa itu, Allah berikan di yaumil akhir, nanti, dengan pahala yang demikian besar.
Tapi, sebelum melanjutkanbicara hal doa, apa hubungannya dengan peringatan meninggalnya seseorang? “Orang yang meninggal, itu didoakan bukan diperingati! “ kata seorang kawan, yang dulu –di kantor- tempat duduknya bersebelahan dengan saya.“Ya, kita akan menuju ke situ.”
Orang yang sudah wafat sangat memerlukan kiriman dari yang masih hidup, baik materi maupun immateri.Pada setiap Jumat, ruh-ruh orang-orang yang sudah wafat, dengan izin Tuhan, datang ke halaman bekas rumahnya, dan mereka berseru, “Bersedekahlah untukku walau hanya dengan sebiji kurma!”
Kurma bisa berarti materi, benda, barang, uang; bisa juga berupa jasa yang diniatkan sebagai sedekah bagi yang sudah wafat.
Apa bisa sampai sedekah dan doa untuk yang sudah meninggal yang disampaikan oleh selain anaknya?Fauziah, teman saya dari Jawa Timur pernah bercerita kepada saya bahwa ketika dia mengadakan pengajian untuk almarhumah ibunya yang belum lama meninggal dunia, kakak sepupu dia menegurnya:
“Setelah seseorang meningggal dunia, putus semua amalnya kecuali tiga perkara: amal jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak yang saleh! Buat apa kamu buang-buang duit bikin acara beginian? Kan, hanya doa kamu yang diterima; bukan doa mereka!”
“Apa iya, doa orang-orang itu untuk ibuku, selain doaku, tidak bisa diterima Tuhan?” kawan yang biasanya pembawaannya ceria itu tampak sedih.
“Orang yang sudah meninggal dunia memang terputus. Sudah tidak bisa lagi beramal karena waktunya untuk beribadah sudah habis. Sudah tidak ada lagi amalnya yang bisa menambah pahala bagi dirinya; tidak ada lagi perbuatan yang dapat menyelamatkan dan membahagiakan dirinya, kecuali ketiga perkara tersebut: amal jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa dari anaknya yang saleh. Itu adalah amal dari mereka (dan, ini pun dalam pengertian umum).Bagaimana kalau amal itu berasal dari orang yang masih hidup dan ditujukan untuk yang sudah wafat?Boleh?Bisa?Kalau tidak boleh, mengapa tidak!

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas r.a; ia berkata, “Rasulullah saw.melewati dua buah kuburan. Lalu, beliau bersabda, ‘Sungguh kedua penghuni kubur itu sedang disiksa.Mereka disiksa bukan karena perkara besar (dalam pandangan keduanya).Salah satu dari dua orang ini, (semasa hidupnya) tidak menjaga diri dari kencing.Sedangkan yang satunya lagi, dia keliling menebar namiemah (mengadu domba).”

Kemudian Nabi Muhammad saw. mengambil pelepah kurma basah. Rasulullah saw.membelahnya menjadi dua, lalu beliau tancapkan di atas masing-masing kubur satu potong. Para sahabat bertanya, “Wahai, Rasulullah, mengapa Anda melakukan ini?”Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Semoga keduanya diringankan siksaannya, selama kedua pelepah ini belum kering.”(H.R. Bukahri dan Muslim).

Dua ahli kubur yang didoakan Nabi Muhammad saw. tersebut, bukanlah orangtua beliau. Apa yang Rasulullah saw. lakukan tidak termasuk ke dalam “doa anak terhadap kedua orangtunya”.

Juga, “Pernahkah Andamembaca atau mendengar teks doa yang berbunyi: “Allaahumaghfir lil mu’minienna wal mu’minaat wal muslimiena wal muslimaat… dan seterusnya, atauAllaahumaghfilanaa dzunuubanaa wa li ikhwaaninaa al-ladziena sabaquunaa bil iemaani wa laa taj’al fie quluubinaa ghillan lil ladziena aamanuu…? Apakah yang didoakan hanya ayah dan ibu dari pendoa?Terus, dalam shalat jenazah, apakah hanya putra-putri dari almarhum/almarhumah yang boleh menyalatkan? Orang lain dilarang keras melakukannya sebab percuma saja, hanya buang-buang energi dan bikin sempit tempat shalat? Ketika kita melewati area pemakaman, di mana pun, makam siapa pun; Nabi Muhammad saw.mengajarkan agar kita membaca doa: Assalaamu ‘alaikum yaa ahlad_diyaari …. Apakah Nabi lupa bahwa doa hanya boleh ditujukan kepada orangtua, tidak untuk orang lain? Mustahil Nabi saw. mengajarkan sesuatu yang sia-sia. Bukankah dalam keseharian pun, kita saling mendoakan, baik untuk orangtua maupun untuk selainnya?”
“Demikan halnya, apabila seseorang wafat dan meningggalkan utang, apakah utangnya itu tidak boleh dibayar oleh yang masih hidup?Apakah yang melunasi utangnya mesti anaknya, tidak boleh orangtuanya, pamannya, kakaknya, adiknya, keponakannya, temannya, atau tetangganya?Siapa pun, walau sebut saja tidak kenal, tidak ada hubungan darah, dan sama sekali tidak pernah berjumpa dengan almarhum atau almarhumah, boleh melunasi kewajiban itu. Demikian juga dengan doa! Jadi, doa atau sedekah dari siapa pun, insya Allah, sampai ke tujuan.”
“Itu doa. Bagaimana dengan sedekah.? Bolehkan kita bersedekah atas nama orang yang sudah wafat?Bukankah “Allaa tazira waaziratun wizra ukhraa.Wa an laisa lil insaani illaa maa sa’aa. Bahwa seseorang yang berdosa tidakakan memikul dosa orang lain. Dan, bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusakannya?“
“Nah, ini kita bicara lex generalisdan lexspecialis.Padahal lex specialis derogat legi generalisAturan yang bersifat umum itu tidak lagi memiliki “validity” sebagai hukum ketika telah ada aturan yang bersifat khusus.Aturan yang khusus tersebut sebagai hukum yang valid, yang mempunyai kekuatan mengikat untuk diterapkan terhadap peristiwa-peristiwa konkrit.”
“Secara umum, dosa seseorang yamilik dia; dan tidak bisa dikirim ke orang lain. Akan tetapi, orang-orang yang masih hidup boleh mendoakan yang sudah meninggal, seperti pada doa-doa di atas.Juga, tidak dilarang bahkan dianjurkan untuk bersedekah bagi mereka yang sudah mendahului kita.”
Abdullah bin Abbas r.a. berkata, “Suatu ketika ibu Saad bin Ubadah meninggal dunia ketika Saad tidak berada ditempat. Lalu, Saad datang kepada Nabi dan bertanya, ‘Wahai Rasulullah, ibuku telah meninggal dunia saat saya tidak mendampinginya, jika saya bersedekah dengan niat pahalanya untuk beliau, akan sampaikah pahala itu kepada ibu saya?Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam menjawab.‘Ya!’Saad berkata lagi, ‘Saksikanlah, bahwa kebunku yang banyak buahnya aku sedekahkan di jalan Allah, agar pahalanya dipetik oleh ibuku.”’

“Tapi, mengapa dalam teks hadis yang disebut hanya anak, dan tidak disebutkan ayah, ibu, paman, kakak, adik, keponakan, sepupu, atau yang lainnya?” pertanyaan selanjutnya.
“Menurut saya sih, itu menunjukan bahwa yang paling dekat hubungan emosional, secara psikologis adalah anak.Anaklah yang dilahirkan, disuapi, ditimang, dibesarkan, dididik, disekolahkan, dan dicurahkan seluruh perhatian untuknya.Wajar, kalau anak bertanggungjawab atas kewajiban membayarkan utang atau berdoa untuk orangtua.”
Bukti bahwa kebaikan atau doa orang-orang di luar anak sendiri bisa untuk yang sudah meninggal, bisa dilihat dalam teks-teks kitab suci dan hadis Nabi saw.
“Jadi, doa yang Allah terima tidak hanya dari anak yang saleh, melainkan pula dari ayah-ibu yang saleh, paman yang saleh, keponakan yang saleh, kakak yang saleh, adik yang saleh, teman SD yang saleh, teman SMP yang saleh…teman kerja yang saleh, tetangga yang saleh, atau …orang saleh yang tidak pernah berjumpa dengan kita.”
“Mengapa teks hadis tidak menyebutkansemua kelompok orangsaleh itu?”
“Jika hadis harus menyebutkan setiap orang saleh yang doanya bisa diterima, hadis itu akan sangat tebal.Bisa jadi membentuk satu kitab hadis tersendiri, namanya hadis tentang daftar orang-orang saleh!”
Segala yang terjadi di rumah kita, akan sampai kepada almarhum/amarhumah. Hingga, jika seekor kucing yang ada di rumah mati, tiba juga berita itu ke kubur. Apabila rumah sering dipakai beribadah, pengajian, kegiatan menuntut ilmu, kegiatan sosial, para ahli kubur akan senang. Jangan sekali-kali rumah dijadikan tempat pertengkaran dan urusan-urusan yang bisa membuat Allah murka. Sampaikanlah kabar gembira kepada merekayang sudah di alam sana. Isilah rumah dengan kegiatan-kegiatan yang sekiranya membuat mereka senang.
“Apa yang sudah di dalam kubur bisa mendengar suara kita.Bukankah mereka sudah tidak bernyawa?”
“Ada beberapa pendapat akan hal ini, dan kita perlu menghargai perbedaan pandangan tersebut sebab masing-masing mempunyai landasan yang digunakan.Dan, tidak menjadikannya sebagai bahan perdebatan.Silakan ikuti yang kita sependapat dengannya, yang membuat hati kita tenang.Tetapi beberapa hadis sahih menunjukan hal itu terjadi.”
Rasulullah saw. berkata kepada para pemuka kafir Qurays yang tewas pada perang Badar: “Wahai Abu Jahl ibn Hisyam, wahai Umayyah ibn Khalaf, wahai Uthbah ibn Rabi’ah, wahai Syaibah ibn Rabi’ah, apakah kalian sudah mendapatkan bahwa apa yang telah dijanjikan Tuhan kalian adalah benar? Sungguh aku mendapati janji Tuhanku kepadaku adalah benar.” (H.R. Bukhari & Muslim)
Mendapati hal tersebut Umar ibn Khathab r.a. heran terhadap apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw. Kemudian Nabi saw. bersabda:
“Tidaklah kalian lebih mendengar terhadap apa yang aku katakan dibanding mereka, hanya saja mereka tidak kuasa untuk menjawabnya”. (Muttafaqun ‘alaihi).
Dan, diantara yang mendatangkan kegembiraan bagi para ahli kubur adalah ziarah.Sering-seringlah kita bersilatutrami dengan para ahli kubur.Fatimah binti Muhammad, setiap hari Jumat berziarah kemakam pamannya, Hamzah. Dan setelah ayahnya meninggal, setiap hari Fatimah mengunjungi makam Rasulullah saw.
Nabi Muhammad saw. mengajarkan kepada Aisyah r.a. bacaan salam kepada ahli kubur.
Untuk ayah, ibu, saudara, atau siapa saja yang sudah mendahului; marilah kita gembirakan mereka. Dan, semoga Tuhan menjadikan kita hamba yang pandai berdoa, banyak bersedekah, dan rajin menziarahi makam orang-orang yang sudah di alam sana. Sering berziarah ke kubur, juga mengingatkan kita akan kematian. Bahwa kita semua akanmenyusul mereka.Semoga amal itu akan membuat kita semakin dekat dengan Yang Mahakuasa.Dan saat kita berbahagia dengan datangnya ramadhan, yang ditunggu sejak –paling tidak- dua bulan sebelumnya, maka gembirakanlah mereka yang di alam sana dengan nyadran, dan berdoa untuk para ahli kubur. Jika ada kelapangan rezeki, bersedekahlah untuk mereka.Semoga Allah ampuni segala dosa para orangtua kita yang sudah meninggal dunia; diterangkan, dilapangkan, dan disejukkan kuburnya; serta Allah masukkan ke surga-Nya.Bagi ayah-bunda yang masih bersama kita, semoga Allah sehatkan, bahagiakan, dan berkahi hidupnya.Aamiin.

Ciomas, Sabtu malam, 14 Maret 2015; berdasarkan materi sharing pada 7 Maret 2015 di Slipi; disempurnakan pada sebagian alinea terakhir, di Jakarta, 17 Juni 2015, sehari sebelum ramadhan 1436.

Salam,
jr

Share the Post

About the Author

Comments

Comments are closed.