FROM THE DUST TO THE DUST

FROM THE DUST TO THE DUST

“Pak, mengapa ya dalam kehidupan…,” kata-kata Pak Amir terhenti sejenak.

“Emangnya, kenapa?

“Waktu kecil, kami tinggal bersama orangtua di Cibadak, Sukabumi. Menjelang masuk SMP,

ibu dan bapak saya pindah ke Jakarta; saya tetap di Sukabumi bersama Uwa.”

“Terus?”

“Tahun 2000 saya bekerja di BCA di Bekasi. Saya tinggal di kota itu selama delapan bulan,

sedangkan istri masih di Sukabumi.”

“Lanjut!”

“Kemudian saya mendapat panggilan dari Genting Oil dan bekerja di perusahaan itu dengan

beberapa kali ganti bos. Terakhir ini membawa Pak Koko. Saya tinggal di Cilandak, belakang

Rumah Sakit Fatmawati, dekat lapangan golf. Eh, sekarang, bersama istri dan empat orang anak,

kami menetap lagi di Bekasi. Dahulu pernah hidup di Bekasi, sekarang kembali tinggal di

Bekasi.”

“Lalu, bagaimana?”4

 

“Kemudian, Pak; dahulu waktu kecil, saya suka main ke rumah paman di Gunungbatu. Dan,

sekarang, mengantar Bapak, lewat daerah Gunung Batu lagi. Jadi, bulak-balik gitu. Apa arti

semua ini, Pak?”

“Pak Amir, kata orang-orang pintar, ‘Sejarah itu berulang,’ Seperti roda mobil yang berputar.

Kadang dia di atas, kadang di bawah. Dan begitu terus berulang-ulang.”

“Maksudnya, bagaimana, Pak?”

“Kalau kita bertemu seseorang, kemudian kita berbuat sebuah kebaikan kepadanya; insya Allah,

suatu saat Bapak akan bertemu lagi dengan orang itu atau orang lain dalam hubungannya dengan

yang pernah kita lakukan. Demikian pula sebaliknya. Jika kita berbuat keculasan kepada

seseorang atau orang banyak, suatu hari, pasti, kita akan bertemu dengan sesuatu yang

berhubungan dengan kelakuan itu!"

“Wah, amit-amit kalau untuk keburukan!"

“Oleh karena itu, hendaknya senantiasa kita berbuat yang baik-baik saja. Dan, janganlah berhenti

berbuat kebaikan! Sekecil apa pun! Karena, semua amal perbuatan kita, baik atau buruk, akan

kembali kepada kita jua.

Seperti halnya asal-usul kita ini. Kita berasal dari tanah, dan suatu saat, kita akan kembali ke

tanah. From the dust to the dust!" saya menutup pembicaraan.

Berdasarkan obrolan ringan bersama Pak Amir, pilot Kijang Innova asal Cibadak, Sukabumi.

Dalam perjalanan dari Bogor menuju Bandar Udara Soekarno-Hatta, 9 Agustus 2014.

Share the Post

About the Author

Comments

No comment yet.

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *