ESEMPE SATU SAWAH LUNTO

ESEMPE SATU SAWAH LUNTO

Dalam rangkaian geological field trip tahun 2015, rombongan kuliah lapangan para pekerja lantai tiga puluh enam Wisma Mulia –setelah melihat banyak singkapan batuan di beberapa lokasi- mengunjungi daerah yang terkenal dengan tambang baturanya: Sawah Lunto. Tiba di lokasi penambangan di mana tersingkap luas batuan dari Formasi Sawah Lunto, Dr. Dardji Noeradi, dosen ITB, pembimbing lapangan, menjelaskan geologi dan potensi reservoir formasi itu. Keasyikan dengan berbagai lokasi yang menarik, tidak terasa, matahari -dari posisi puncaknya, sudah menempuh lebih dari setengah perjalananya menuju Magrib.

“Kita shalat di kota saja,” ujar pak dosen yang juga ustaz ini.

Di antara bebukitan yang menghijau dan sungai-sungai kecil yang mengalir deras, Masjid Nurul Islam berdiri. Dari halaman masjid atau dari jalan raya di mana masjid berada, tulisan sangat besar di dinding tebing bukit yang menghadap kota terbaca jelas: SAWAH LUNTO.

Saya tidak tahu, sudah berapa lama tulisan itu dibuat. Apakah sejak zaman baheula atau baru kemarin-kemarin, seperti banyak ditemui di beberapa daerah, akhir-akhir ini. Di banyak kota, pada area tertentu, mudah kita jumpai tulisan besar yang “meniru” aksara-aksara badag yang orang banyak berfoto di Damrak Avenue, Amsterdam, Belanda: I AMSTERDAM! Di Bandung Utara, kita melihat tulisan berwarna merah menyala D A G O; di Bogor ada J E M B A T A N M E R A H, dan seterusnya. Tapi, biarlah tak usah dipermasalahkan. Sepanjang menambah keindahan, apa salahnya! Kita kembali ke Masjid Nurul Islam, di bawah bukit bertuliskan SAWAH LUNTO.

Kami melaksanakan shalat Zuhur dan Ashar secara jama-qashar; kedua shalat itu dilaksanakan pada satu waktu, dan jumlah rakaatnya disingkat. Kami terbiasa dan piawai mengumpulkan dan menyingkat shalat, yang tidak kami lakukan untuk urusan makan.

Tempat ibadah ini, dari teras hingga ke bagian dalam, tidak seperti di banyak masjid, terasa agak kotor. Banyak sisa makanan di beberapa bagian lantainya. Dua orang wanita setengah baya dan seorang lelaki sedang sibuk membersihkan sampah yang berserakan.

Selesai shalat yang singkat itu, saya mendekati seorang ibu yang sedang menyapu. “Habis ada acara, ya Bu?”

“Iya Pak, barusan selesai khataman.”

“Khataman apa?”

“Khatam Qur’an, setahun sekali.”

“Dalam rangka apa?”

“Setiap tahun, semua anak-anak Sekolah Dasar kelas lima se-Kecamatan Lembah Segar -yang kalau sudah lulus mau mendaftar ke SMPN I Sawah Lunto, mereka melaksanakan khotmil Qur’an di masjid ini.”

“Mengapa kelas lima, bukan kelas enam?”

“Kalau kelas enam, harus konsentrasi ke pelajaran sekolah; sebab mereka menghadapi ujian SD dan tes masuk SMP. Jadi, khataman dilakukan saat kelas lima naik ke kelas enam,” Bu Titin menerangkan.

“Jadi, semua murid yang mendaftar ke SMP I Sawah Lunto sudah pada khatam Qur’an?”

“Ya. Di semua kecamatan di Kabupaten Sawah Lunto, dilakukan hal serupa. Tapi di masjid ini, khusus untuk warga yang tinggal di Kecamatan Lembah Segar. Di Barangin, Talawi, dan Selungkang juga sama,” istri dari Uda Oyon ini menambahkan.

“Orang Minang, kok, namanya Titin. Kayak orang Sunda saja. Oyon pun, mirip nama orang Jawa!”

“Saya asli Blitar, Pak. Suami saya orang sini. Saya turut suami, hidup di Sawah Lunto.”

Saya terkagum-kagum dengan kebijakan yang diambil para guru dan kepala sekolah SMPN I Sawah Lunto. Dengan demikian, bisa dipastikan seluruh siswa di sekolah itu, bisa baca Qur’an! Sudah pernah khatam lagi!

Tadi pagi, saya menghadiri peresmian AIS Health Center di City Plaza, belakang Wisma Mulia, di Jalan Gatot Subroto, Jakarta. Di sela-sela waktu itu, saya berbicara dengan pembawa acara, Ibu Nida. Beliau rupanya, memiliki biro perjalanan haji. Ia bercerita bahwa di antara para haji itu, ternyata, banyak yang tidak bisa mengaji. Saya menyambungnya bahwa, dahulu, di Pertamina EP, dan berlanjut dengan di BPMIGAS –hingga beberapa tahun lalu, pada jam istirahat, saya mengajar membaca kitab suci. Pesertanya, ya teman-teman kerja. Kawan-kawan itu, kebanyakan lahir dan besar di kota, yang kebetulan kedua orangtuanya pada sibuk, juga waktu itu belum ramai sekolah-sekolah agama atau pra-sekolah yang mengajarkan membaca Al-Qur’an sejak usia dini. Di antara mereka, ada yang tersita waktunya untuk kursus-kursus bahasa Inggris dan Matematika. Lewatah pelajaran membaca Al-Qur’an itu.

Saya merasa beruntung punya ayah-ibu yang berasal dari kampung. Bagi orang-orang desa, paling tidak, setiap Magrib, semua anak-anak harus mengaji. Lantaran berada di lingkungan pedesaan, saya “terpaksa” sejak kecil sudah bisa mengaji. Ilmu sangat dasar dan sedikit ini, saya tularkan kepada teman-teman.

Ada sebuah cerita. Seorang karyawati Pertamina EP, anggota pengajian saya, dua-tiga minggu menjelang hari terakhir berkantor, sebelum masuk hari pensiun, memasuki pelajaran IQRA V. Dia belajar dari IQRA jilid I, sejak mengeja “a”, “ba”, “ta”, dan “tsa”. Setelah beberapa bulan belajar, hari itu, ia belajar buku IQRA jilid kelima, pada halaman-halaman akhir. Pelan-pelan, ibu Bathalah membaca dua ayat pendek–yang sepertinya sangat familer dengannya.

“Ini Qulhu?”

“Ya, itu surah yang sering ibu baca dalam shalat-shalat.”

“Saya bisa ngaji?”

“Ibu bisa mengaji.”

Karyawati yang tinggal beberapa hari lagi masa kerjanya, itu meneteskan air mata. Selama lebih dari lima puluh tahun, dalam shalatnya, ia membaca surah Al-Ikhlas sebagai hapalan saja. Hari itu, dalam seumur hidupnya, untuk pertama kalinya, ia bisa membaca Qulhu, langsung dari Qur’an. Ia, Alhamdulillah, bisa mengaji.

Beruntung Ibu Bathalah masih mau belajar. Jika tidak, di akhirat nanti, ia akan mengalami penyesalan yang sangat. Orang-orang yang semasa hidupnya tidak bisa membaca Al-Qur’an, di alam yang akan datang akan dihinggapi oleh penyesalan yang dalam dan tidak pernah berakhir. Padahal, keadaaan tidak bisa mengaji tidak akan dijumpai jika sekolah-sekolah mengikuti jejak SMPN I Sawah Lunto, dan para siswa Sekolah Dasarnya rajin mengaji seperti di Lembah Segar, Barangin, Talawi, dan Selungkang.

Dalam perjalanan dari Lembah Segar, Sawah Lunto menuju Bukittinggi; 30 Juni -sore dan malam hari; Ciomas, 14 Juni 2015 -dini hari.

Salam,
jr

Tambahan, nich! Mumpung di bulan mulia, mari kita belajar membaca kitab suci. Bagi yang sama sekali belum bisa membaca, mari kita belajar. Moga-moga, bulan Syawal sudah bisa mengaji. Bagi kelompok ini, boleh hubungi saya.

Share the Post

About the Author

Comments

Comments are closed.